08.38

Cerita Sedih - Untuk Mimpiku

Sebuah cerita sedih yang mengarukan.sobat pasti penasaran kan dengan cerita ini karena cerita ini sangat menyedihkan. selain memberikan cerita yang menyedihkan di blog kata mutiara ini juga memberikan cerita humor yang membuat sobat ketawa

Cerita sedih ini di tulis oleh maya herlyana. setalah kemarin update cerita cinta dan cerita lucu

Untuk Mimpiku

Tak ada keindahan seanggun tarian burung bangau yang sedang bercumbu. Aku menatap begitu takjubnya, segitu banyakkah burung bangau yang sedang berkencan di tempat ini? Burung-burung itu serempak mencericitkan kicau mirip tangisan paling bahagia yang memekakkan telinga tetapi pada saat yang sama mereka bergerak mirip penari keraton. Mereka mengayunkan sayap dalam gerak yang kadang-kadang lamban, kadang-kadang cepat, kadang-kadang ritmis, kadang-kadang sembarangan. Mereka juga melompat, berlari, melompat lagi, dan berlari lagi.

Itulah pemandangan yang aku lihat di pagi itu saat matahari hendak menunjukkan jati dirinya. Aku terdiam sesaat mengagumi keindahan yang ada di depan mataku. Tak pernah ku melihat alam seindah ini, udara sesejuk ini, dan mentari sehangat ini bahkan saat malampun sang bulan selalu menemani walau terkadang terselimuti kabut juga.

Aku yang tak pernah bisa merasakan kedamaian seperti saat ini kini kurasakan juga. Ku tarik nafas sedalam mungkin untuk kemudian kuhembuskan kembali “hahhh… segar sekali” terpancar satu senyuman dari bibirku untuk mengawali hari yang indah ini.
Terlihat di ujung sana ada seorang lelaki kencur berusia sepuluh tahun. Di tangannya terlihat seperti memegang sesuatu untuk ia berikan pada burung bangau indah itu. Alisku berkerut heran. Seperti dengan sendirinya kakiku melangkah menuju anak laki-laki itu. Dari jauh ia tersenyum manis padaku, ia memberiku segenggam jagung lalu ia menyuruhku untuk memberikannya pada bangau-bangau itu. Indah sekali saat aku melihat bangau-bangau itu saling berebut makanan, sebagian ada yang berterbangan dengan arah yang acak-acakan. Kembali ku rasakan hembusan udara segar di pinggir pantai itu, kembali muncul juga senyuman-senyuman damai dari bibirku.
“Dani”
Ia mengasongkan tangan kanannya sembari tersenyum, rambutnya yang agak sedikit lurus juga sdikit panjang menutupi mata sebelah kanannya karena tersapu angin laut. Senyumnya manis sekali.
“Viona”

Kubalas dengan senyuman hangat juga. Dani tertawa kecil, tangannya masih menggenggam tanganku bahkan ia mengayun-ngayunkannya. Disitulah awal keakraban antara Dani yang baru berusia sepuluh tahun dan aku Viona yang sudah mulai menginjak dewasa. Tak sangka kami akan seakrab dan sedekat ini.

Dani, adikku. Setiap pagi dan sore ia pasti mengajakku untuk memberi makan bangau-bangau itu. Ia tertawa begitu lepas selepas hamparan air laut yang ada di hadapanku, senang rasanya kalau aku menjadi Dani yang selalu ceria dan bahagia. Mungkin karena ia masih kecil, belum ada yang harus ia pikirkan dalam hidupnya yang baru seusia jagung ini. Kala harus menengok kedalam hidupku, aku sudah cukup perih dengan semua ini. Tak ada yang bisa ku lakukan selain ini, meninggalkan semua orang yang selalu membuatku merasa terkekang dan terikat dengan kedaan yang harus aku jalani.

Apa hidupku di takdirkan untuk seperti ini? Aku rasa tidak, masih ada hal lainnya yang lebih indah di hari ini, esok dan seterusnya di banding hari kemarin. Disini aku merasakan adanya ketenangan, adanya kedamaian juga pasti ada jiwa yang lebih baik pula. Tawanya Dani selalu menenangkan jiwaku, entah apa yang ada dalam dirinya hingga ia mampu membuatku tertawa lepas selepas saat ini.

Hari ini berbeda, tidak seperti biasanya. Dani membawaku ke puncak gunung dimana di sekeliling gunung itu hanya ada hamparan ilalang yang hampir kering namun masih berbunga. Di sela-sela bukit itu ada sebuah gubuk kecil yang terbuat dari jerami dan ranting-ranting namun cukup nyaman juga walau tempatnya agak sempit.

Jiwaku melayang, pikiranku seperti ada diatas awang-awang. Sejenak aku melihat seperti ada bayangan Ayah, ia memarahi aku dan memukulku dan tiba-tiba aku serentak ketakutan. Tetapi berbeda dengan bayangan Ibuku. Ibu yang selama hampir dua bulan ini sudah aku tinggalkan. Ia mengelus-ngelus rambutku dan berkata “Ibu sayang kamu” sembari mengecup keningku.

Aku tak kuasa menahan airmata yang yang sudah lama terbendung ini. Tubuhku lemas kala aku mengingat Ibu yang kini sangat jauh dariku. Perlahan aku membuka mata yang basah karena airmata, ku tengokkan kepalaku kearah Dani yang berada di sebelah kananku. Aku melihat Dani menangis, airmatanya tidak kalah banyak dengan airmataku sampai ia tersedu-sedu. Serentak aku menyapanya dan memeluknya.

Aku tidak tahu kenapa ia menangis, seperti ada beban di pikirannya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Aku memeluknya dengan erat layaknya seorang ibu yang memeluk anak kandungnya sendiri. Aku mengusap-ngusap rambutnya, memeluknya lagi dan mencium keningnya. Biarkan dia tenang.

Airmatanya kini tidak lagi membasahi pipinya yang mungil. Ia berdiri dan beranjak dari pangkuanku. Aku mengikuti langkah kakinya yang pendek, aku berdiri tepat di belakangnya memegang pundaknya yang kurus.

“Dani”

Aku terdiam sejenak di sela-sela lembutnya angin yang mengusap airmata.
“Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau menangis seperti itu? Katakan padaku Dani, katakana!”

Dani masih terdiam menikmati lamunannya yang terbawa luasnya hamparan padang ilalang bersama angin sepoi-sepoinya. Ia terlihat seperti menelan ludah yang lama mengental di mulutnya.

“Apapun yang terjadi padamu, ceritakanlah padaku. Biarkan aku tahu segala tentangmu. Dengan
begitu semua beban yang ada di pikiranmu akan terasa lebih ringan”

Dani masih terdiam dan membisu, sekarang kepalanya lebih menunduk. Ku pegang tangannya, ku yakinkan dia dengan semua permasalahan hidup ini. Ku pegang erat tangan kirinya dengan kedua tanganku. Ku tengadahkan kepalanya dan ku tatap matanya yang masih memerah.

“Percayalah. Hidup ini indah”

Kulempari dia dengan senyuman yakin tetapi Dani masih saja menunduk. Ku tarik lengannya dan kubawa dia berlari dan menari di tengah luasnya hamparan padang ilalang, langkah kakinya yang pendek membuat satu sejarah dimasanya bahwa ia mampu bangkit dari sebuah keterpurukan walau tak seutuhnya ia bisa dapat bebas dari semua masalah hidup yang tak seharusnya ia tanggung dalam usia yang sangat dini. Akhirnya ia tertawa sangat lepas sekali. Hatiku tenang setenang angin yang menari-nari menyelimuti tubuhku saat aku bisa melihat tawanya kembali dan ia berbisik sangat pelan

“Hidup ini indah” kemudian tertawa lagi.

 “Hari sudah hampir sore. Apa kita gak bakalan pulang?”
Dani menatapku tajam sambil tersenyum.
Aku menarik nafas dan kemudian mengeluarkannya kembali.

“Tempat ini adalah salah satu tempat terindah yang pernah aku temui. Sedikitnya tempat ini bisa membuatku tenang karena anginnya yang sangat sejuk dan padang ilalangnya yang luas juga suasana pantai yang indah”

“Maksudmu, kau masih betah tinggal disini?”

Dani kembali bertanya. Alis tebalnya mengerut menyatukan kedua bola matanya yang bulat.
Terduduk di bukit itu memang terasa nyaman apalagi di tambah pemandangan langit sore yang berawan emas menyala. Lembayung sore menemani akhir di hari ini namun angin sepoi-sepoinya masih tetap membasuh wajahku yang lusuh.
Kami terdiam dalam kebisuan disela-sela jeritan suara jangkrik yang kini mulai berbunyi.

“Tahukah kau, hari ini adalah hari paling indah setelah hari kemarin dan kemarinnya lagi dan kemarinnya lagi”

Tuturnya sambil tersenyum.

“Aku senang bisa punya teman sebaik kamu walaupun usia kita terpaut sangat jauh. Tapi mungkin inilah yang dinamakan persahabatan, tidak mengenal perbedaan. Bukan begitu kak Viona?”

Sambungnya sambil menatapku tajam.
Aku terdiam sejenak lalu mengikuti senyumannya yang manis.

“Dani. Apa sebelumnya kau tidak pernah punya sahabat?”

Ia tertunduk lama dan tidak berbicara.

“Maaf jika kau merasa tersinggung dengan pertanyaanku”


Aku merasa bersalah dengan sikapnya yang seperti itu. Tetapi sedikitnya aku bisa menebak apa yang ia pikirkan saat ini. Rasa sedih dan kecewa? Itu sudah pasti, terlihat dari mimik wajahnya yang muram.

“Ka Viona. Aku kangen dia”

Alisku mengerut heran.

“Dia siapa?”

“Dia yang selalu menemani hari-hariku, dia yang selalu membuatku lebih bersemangat. Aku kangen Sella”

Kepalanya kembali tertunduk sambil menarik nafas dan membuangnya kembali. Aku tersenyum heran.

Sella adalah sahabatnya Dani dari kecil dari mulai saat ia baru bisa merangkak berjalan hingga mereka bisa berlari-lari di pantai sana. Sella itu adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Memang mereka itu keluarga yang cukup berada, tidak seperti Dani yang hanya seorang anak nelayan yang serba berkekurangan karena penghasilan ayahnya yang kurang mencukupi.

 Tak jarang aku memergoki Dani sedang di pukuli oleh ibu tirinya, tetapi aku belum mampu membelanya walau sesungguhnya aku tidaklah tega membiarkan Dani dalam keadaan seperti itu. Jantungku seperti bergetar, teringat akan ayah yang selalu memukuli aku. Mungkin rasa sakit yang Dani rasakan tidaklah sesakit yang aku rasakan. Ibu tirinya Dani lebih sering memukuli dan menyiksa Dani hingga anak itu berlumuran darah, barulah ibu yang tidak punya hati itu merasa puas terkadang merasa ketakutan juga. Takut kalau-kalau bapaknya Dani mengetahui apa yang ia lakukan terhadap Dani. Mungkin ia bisa mati juga terkena amukan sang suami yang membela anaknya.

Dani mempunyai seorang adik tiri yang masih berusia empat tahun. Dani selalu membawa main Esty kala ada selang waktu tetapi Dani selalu di salahkan oleh ibu tirinya. Jengkel dan kesal sudah pasti ia rasakan, tetapi Dani kecil tidak bisa berbuat apa-apa. Ibunya terlalu tangguh untuk di lawan
Burung-burung pantai kembali berterbangan satu arah yang membentuk segitiga seperti kapal udara yang melaju cepat. Anginpun kian kencang mendorong kapal-kapal di laut yang sedang berburu ikan. Satu kesatuan perburuan ikan yang sangat kompak di kapal itu. Salah satunya ada bapaknya Dani yang termasuk karyawan di kapal itu. Jarang sekali ia pulang ke rumah, maka tak heran jika istrinya bisa leluasa menyuruh ini itu terhadap Dani dengan semena-mena.

Tiga hari sekali bahkan terkadang sampai satu minggu bapaknya Dani tidak pulang. Dani selalu merasa kesepian di rumah. Maka tak heran kalau Dani akan selalu mengajakku untuk bermain dengannya.

Suatu pagi saat udara masih sejuk, saat sang mentari baru memancarkan sinarnya, aku melihat Dani berpakaian seragam SD. Aku tahu ia pasti akan berangkat sekolah, tetapi kenapa ia seperti bersedih? Sambil memakaikan sepatu yang sudah bolong-bolong pinggirnya, kepalanya tertunduk bersandar di lutuk kurusnya. Tentu saja aku merasa penasaran dengan tingkah lakunya yang lagi-lagi aneh.

Ku langkahkan kakiku dari rumah pak Ajo. Pak Ajo itu adalah supirnya ayah yang kini sudah pensiun dari kerjaannya sebagai supir pribadi. Ia kini lebih memilih mengurus ladangnya ketimbang kembali kerja bersama ayahku.

Aku mengikuti langkah kakinya Dani yang tergesa-gesa. Sepanjang jalan, airmatanya tak pernah berhenti menetes membasahi seragam lusuhnya.
“Dani…”
Ku panggil namanya, serentak ia berhenti dan menengok kebelakang tepat kearahku.

“Tunggu sebentar, aku ikut”

Sambungku sambil berlari menyusulnya.

Dani tersenyum sambil mengusap airmatanya. Ia kelihatan seperti sangat bersemangat sekali. Kakinya melangkah dengan pasti, pergelangan tangannya aku genggam erat. Aku tahu, hari ini adalah hari terpenting untuknya. Hari ini akan menjadi hari yang paling ia takutkan dan was-was karena akan di umumkannya hasil ujian kelulusan.

Dengan sendirinya aku bisa mengerti kenapa Dani menangis saat hendak berangkat sekolah tadi pagi, karena ia ingin di hari terpentingnya ini, ayah ibunya bisa menghadiri undangan dari sekolah untuk sama-sama menyaksikan hasil ujiannya. Walaupun hanya sebagai ibu tiri yang tak pernah berhenti menyiksanya, tetapi Dani sangat mengharapkan ibu tirinya itu bisa datang ke sekolahnya itu. Tapi apa yang Dani dapatkan dari bibir tajamnya sang ibu tiri, ia seperti mendapat penghinaan, cacian dan makian. Ya sudahlah. Dani tidak mau memaksakan kehendak oranglain yang jelas-jelas sebenarnya sangat ia benci.

Sementara ibu kandungnya, sudah lama meninggal saat melahirkan Dani sekitar sepuluh tahun yang lalu. Dani sama sekali tidak mengetahui wajah ibu kandungnya, bahkan potretnyapun tidak ada. Malang sekali nasibmu Dani.

Pagi itu, tibalah aku di sebuah sekolah SD. Dengan bangga, Dani menunjukkan sekolahnya padaku. Terlihat jelas di papan gerbang masuk ada tulisan nama SD tersebut “SD Negeri 1 Harapan Bangsa”. Bangunannya seperti sudah hampir rusak, tembok-temboknya seperti sudah lama sekali, tidak pernah di renovasi. Dengan semangat, Dani menuntunku ke dalam sekolahnya. Terlihat beberapa teman dekatnya Dani menyapanya hangat, ia memperkenalkan aku ke teman-temannya. Ia seperti bangga sekali bisa memperkenalkan aku pada semua temannya.

Terlihat ada beberapa guru yang keluar masuk dari ruangan kantor, salah satu dari guru itu seperti kelihatan ada yang masih sangat muda tetapi tidak begitu terlihat jelas olehku. Sementara Dani bermain-main dengan temannya,.

Tak sengaja aku melihat Dani sedang ngobrol dengan gurunya, lalu aku berjalan menuju Dani dan gurunya itu.

“Dani, kenapa?”
Serentak aku bertanya pada Dani, aku takut ia melakukan sesuatu yang melanggar aturan sekolah.

“Anda siapanya Dani?”
Belum sempat Dani menjawab pertanyaanku, tiba-tiba guru muda yang sejak tadi aku perhatikan itu mengajukan sebuah pertanyaan terhadapku.

“Emh, saya kakaknya Dani. Maaf Pak, apa adik saya ini melakukan kesalahan?”
“Sebaiknya kita bicarakan di kantor saja, mari!”

Lalu ia berjalan dengan gagahnya. Rasa senang dan takut kini terlalu berkecamuk di hatiku. Aku senang karena guru muda yang ganteng itu membuat jantungku berdegup kencang. Aku merasa takut karena aku takut Dani bermasalah dengan sekolahnya sehingga menyebabkan sesuatu yang fatal untuk nilainya.

Aku berjalan mengikuti guru muda itu menuju kantor sekolah dan kemudian masuk keruangan pribadinya. Ia mempersilahkan aku untuk duduk di kursi yang telah di sediakan.

Setelah sekian lama, setelah panjang lebar membicarakan masalah Dani, ternyata Dani tidak melakukan apa-apa yang bisa membuat nilainya buruk. Tetapi wali kelasnya Dani itu hanya heran, kenapa Dani sering tidak masuk sekolah saat sebelum ujian? Bukan ia tidak tahu akan prilaku ibu tirinya Dani, tetapi kenapa bisa sesering itu? Akupun menjelaskan sedikitnya kenapa Dani bisa seperti itu..

Tidak lama dari situ, acara pengumuman kelulusanpun akan segera di mulai maka kami segera menyudahi perbincangan itu dan beranjak keluar. Dani seperti benar-benar tegang, ia takut kalau-kalau nilainya turun dan ia tidak akan lolos. Dani terlihat gugup dan tegang, tangannya dingin, mukanya pucat dan ia gelisah.

“Dani, tenanglah! Kamu pasti lolos dan nilaimu tidak mungkin seburuk yang kau kira”
Dani hanya menatapku dan tersenyum tak pasti lalu kemudian menunduk lagi. Satu persatu nama murid di sebutkan dengan nilai dan prestasi yang di dapatkan.

Tibalah saatnya giliran nama Dani yang di sebut. Mata Dani melotot tajam memperhatikan mulut sang guru yang sedang menyebut namanya, tangannya lebih dingin dari sebelumnya, sudah pasti jantungnyapun berdegup sangat kencang. Ku pegang kedua tangan Dani agar dia tidak begitu panik dengan keadaan yang ada.

“Muhammad Dani Herdiansyah”

Seru guru yang memberi pengumuman kelulusan itu.
“Mencapai peringkat satu juara umum”

Terdengar sangat menggelegar sekali suara itu. Dengan serentak Dani bersujud dan mengucap syukur. Aku mencium keningnya dan memeluk erat tubuh kurusnya Dani.
Matanya memerah dan kemudian meneteslah airmatanya. Aku seperti terbawa suasana, terharu, senang dan bahagia. Dani yang kesehariannya sangat tidak seperti kebanyakan anak-anak lainnya yang menghabiskan waktu luangnya dengan bermain dan bermain sementara Dani harus bekerja banting tulang, mengasuh adiknya, membantu cari uang demi sesuap nasi.

Hari yang paling ia takutkan ternyata berubah menjadi hari yang paling membahagiakan. Tetapi sayang, ayah ibunya tidak bisa menyaksikan kebahagiaan yang kini di rasakannya. Ayahnya yang sibuk dengan pekerjaannya, ibunya yang kini sudah berada di surga, ibu tirinya yang tak pernah akrab dengannya. Semuanya seperti tidak memperdulikan Dani dalam kondisi apapun.

Suara jangkrik kembali terdengar saat Dani sedang mencurahkan segala isi hatinya yang terbendung sekian lama. Tentang ayahnya yang tak pernah pulang, tentang ibu tirinya yang selalu menyiksanya, tentang ibu kandung yang meninggal saat ia di lahirkan dan juga tentang semua mimpi-mimpinya.

Aku berfikir ketika Dani harus menerima siksaan dari ibu tirinya, apa dia akan terus seperti itu? Di perlakukan tidak layak oleh ibu tirinya. Sangat di sayangkan apabila anak sepintar Dani harus berhenti sekolah, terlebih ia memiliki mimpi-mimpi yang tinggi, tentu ia pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan kelak jika dewasa.

“Dani. Setelah ini kau mau kemana?”

Tanyaku sambil mengusap punggung kurusnya Dani. Ia terdiam sejenak lalu menghelak nafas.
“Aku gak tahu, kak”
Serunya lirih.

Tanpa harus berunding dengan Dani, aku sudah berencana akan membawa Dani pulang ke rumahku lalu disana ia akan melanjutkan sekolahnya, menimba ilmu setinggi-tingginya dan menggapai mimpi-mimpi itu dengan pasti. Namun tentu saja itu semua tergantung izin dari orangtuanya Dani.

Malam itu saat bapaknya Dani telah pulang dari pelayaran, aku tergesa-gesa segera membicarakan tentang Dani, tentu saja aku melakukan itu di belakangnya Dani. Tanpa di sangka-sangka ternyata bapaknya Dani mengizinkan aku untuk membawa Dani pulang bersamaku walaupun pada awalnya bapaknya Dani sama sekali tidak memberi izin. Hal itupun segera aku ceritakan pada Dani. Dani kelihatan sangat senang tetapi ia kembali berfikir, siapa yang akan membantu ibu tirinya kelak kalau ia pergi meninggalkan kampung halamannya?
“Tidak, aku tidak mau ikut kak”
“Dani. Dengan ikutnya kamu kesana, bukan berarti kamu akan meninggalkan mereka untuk selamanya. Suatu saat jika kamu telah berhasil meraih mimpi-mimpi kamu, kamu akan kembali kesini bersama mimpi-mimpi itu”.

“Apa kakak yakin aku bisa kembali kesini bersama mimpi-mimpi itu?”
“Lihat mata kakak, Dani! Apa kamu tidak percaya pada kakakmu ini? Disana, berbagai peluang dan kesempatan sangat mudah di dapatkan. Nanti kamu bisa memilih sesukamu, mana yang akan kamu pilih”
Dani tersenyum senang.

“Apa benar begitu kak?”
“Tentu saja benar, kamu mau ya ikut kakak”
Dani  mengangguk.

Malam itu juga Dani membereskan semua pakaiannya dengan semangat. Semua barang-barang kesayangannya ia masukkan kedalam tas bajunya. Bapaknya terlihat sedih melihat Dani yang terlalu semangat dengan semua itu. Ibu tirinya secara tak sadar meneteskan airmata, mungkin ia akan merasa kehilangan Dani, tidak ada yang membantunya dalam pkerjaan rumah ataupun tidak ada yang membantunya mengasuh Esty. Tetapi Dani belum menyadari orangtuanya yang benar sedih dan akan merasa kehilangan.
Di tengah malam yang gelap, ia menulis sebuah surat yang ia tujukan untuk ibu kandungnya.

Untuk ibu tercinta…
Ibu…
Apakabar disana? Aku kangen sama ibu, kapan aku bisa bertemu denganmu ibu. Tiada hentinya aku mendoakan ibu yang tak pernah bertemu denganku.
Ibu…
Aku mendapat peringkat satu dan menjadi juara umum di sekolah. Ini semua aku persembahkan hanya untukmu ibu.
Ibu…
Besok aku akan pergi meninggalkan kampung halaman ini dan ikut bersama kak Viona, bermaksud untuk mewujudkan semua mimpi-mimpiku, ibu tahukan semua mimpi-mimpiku? Aku akan mewujudkan semua itu untuk ibu. Aku meminta restu darimu ibu, izinkan aku berangkat bersama kak Viona…
Dani ingin bertemu ibu…

                                                                                                          Anakmu

                                                                                  (Muhammad Dani Herdiansyah)
 dikirim oleh
nama         : maya herlyana
alamat       : Jl. Raya Naringgul Kab. Cianjur
                 Cianjur selatan
Facebook   : maiiacewek@ymail.com



hai sobat ayo gabung di facebook blog ini bersama dengan ribuan sahabat lain


Artikel Terkait:

0 Responses to “Cerita Sedih - Untuk Mimpiku”

Poskan Komentar